Setelah membaca cerita kelam masa lalu karir saya dan istri kemarin saya rasa tdk seorang pun ingin menjadi saya pada saat itu. Bahkan saya sendiripun demikian. Tapi itulah perjalanan. Proses yg sering disebut2 dgn ‘baby stap'. Tengkurap dulu, merangkak, belajar berdiri, belajar berjalan baru kemudian berlari. Itu adalah hukum alam / sunatullah yg hrs dilewati oleh siapapun Tanpa terkecuali.
Seperti roda yg berputar, cerita kemarin bkn satu2nya cerita hitam. Dan apa yg sy tulis skrng ini pun bukan satu2nya cerita bahagia. Keduanya dtg silih bergantung menghampiri siapapun termasuk sy dan istri. Foto ini di Ambil ketika istri saya berkarir di Kuwait, disalah satu perusahaan pengolahan susu dan keju disana. Perusahaan tersebut milik salah satu keluarga kerajaan disana. Padahal ketika itu sy dan istri sama2 applay application tapi krn itu istri sy memiliki kemampuan berbahasa Arab aktif dan pasif akhirnya dia yg diterima. Dan saya diterima disalah satu perusahaan Farmasi di Mancaster. Saat itu kami memutuskan LDR. Lagi2 dgn alasan masa depan.
FYI: jadi ada beberapa mekanisme kerja sebagai seorang trader. Salah satunya menjadi anggota team Analisa yg setiap wkt dan klo diminta pertimbangannya hrs memberikan saran yg berdasar atas analisisnya masing2 dan nanti ketua team yg meramu dan memberikan rekomendasi ke lavel yg lbh tinggi. Tingkat lbh tingginya lagi ya menjadi ketua team. Dan tingkat lbh tinggi dari itu lagi menjadi seorang professional trader yg membawa nama dan kredibilitas pribadi dimana segala keputusan diambil dan dipertanggung jawabkan sendiri.
Awal2 bergabung sy dan istri hanya menjadi anggota team. Bahkan kami yg berwajah Asia tdk jarang analisisnya dipandang sebelah mata krn melihat kondisi kebanyakannya negara Asia yg msh tertinggal saat itu. Tapi kami membuktikan bahwa setiap Analisa kami detil dan bisa dipertanggung jawaban wlwpun tdk semuanya benar. Tapi saat itu kami selalu membuat plan A, B, C, dan D klo terjadi apa2 yg tdk sesuai dan itu yg membesarkan kami sebagai anggota team. Ternyata kerja kami dipandang baik dan tdk butuh lama bagi saya dan istri untuk naik ke tahap berikutnya, menjadi ketua team.
Wkt itu memang kami terpisah jarak, tapi itulah kuasa Tuhan. Tdk lbh 6 bln istri sy diangkat2 menjadi kepala team pertama non Kuwait dlm perusahaan tersebut. Dan karena menjadi ketua team banyak berkomunikasi langsung dgn owner maka selang beberapa bulan berikutnya kabar Gembira dtg tiba2. Doa kami selama ini dijawab yg maha kuasa. Istri sy diangkat menjadi seorang trader professional oleh sang Raja minyak pemilik perusahaan pengolahan susu dan keju itu, dan saya diminta menyusul segera ke Kuwait untuk menemani istri sekaligus kami berdua dijadikan team work. Sungguh Tuhan itu maha pemurah. Menjawab setiap doa dan kerja keras kami bahkan memberikan banyak diskon dan bonus.
Menjadi seorang trader professional yg dihargai setiap keputusannya adalah hal yg membanggakan pada saat itu dikalangan para trader dan pelantai bursa. Terlebih kami di beri kepercayaan oleh seseorang yg bukan main2. Bagi tmn2 yg mengenal budaya org Arab pasti tau betul bagaimana org Arab yg kaya raya itu menyikapi uang. Kami saat itu tinggal diarea bernama zulhud. Area dimana banyak terletak istana2 keluarga kerajaan. Segala fasilitas nomer Wahid kami dapatkan. Bepergian dgn private jat dgn seri tertentu serupa boing bukan hal yg hebat bagi kami saat itu, krn rata2 memang mereka memiliki pesawat2 pribadi khusus bagi masing2 keluarga. Hidup yg sama sekali tdk pernah kami bayangan sepanjang lahir. Terlebih bagi saya dgn latar belakang saya. Melalui tangan beliau lah saya saat itu mengenal beberapa pengusaha kaya Indonesia seperti Pak Yusuf kalla, Abu Rizal dll.. Sungguh hidup terasa diatas awan dgn beban kerja yg jauh lbh ringan dari sebelum2nya.
Rasanya tdk akan habis klo sy menceritakan part to part baik saat sy dlm kondisi sangat sulit ataupun sebaliknya. Pada akhirnya pun setelah merasa punya uang kami mengundurkan diri. Bukan krn kami tdk menikmati hidup seperti itu tapi itu bukan tujuan hidup kami. Sy menganggap masa hidup saya saat itu serupa ‘surga’ yg disegerakan. Berbagai fasilitas mewah dan aduhai yg klo sy ceritakan ke orang tua saya saat itu mereka tdk bisa membayangkan. Tapi lagi2 itulah perjalanan. Wkt itu kami hrs segera bangun dari mimpi dan kembali mengejar tujuan hidup kami daripada sekedar hidup distana tapi milik orang lain, kami lbh memilih membangun gubuk dari keringat sendiri. Dan akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke kehidupan normal dan membangun apa yg sdh kami cita2kan.
Sy menuliskan dua cerita yg saling bertolak belakang ini Tanpa maksud negatif apapun. Sy hanya ingin tmn2 tdk hanya melihat sy sekarang. Krn itu sy sering sekali menganalogikan ‘masa tanam dan masa tuai'.
Sy hanya ingin kita semua sadar dan berhenti mengorbankan banyak hal berharga yg tdk perlu. Sukses itu sulit tapi akan lbh sulit klo kita tdk sukses. Mari sama2 kita semua bangkit dari mimpi kosong kita menuju kerja nyata. Klo dulu kita pernah terjerumus maka perbaiki langkah dan majulah segera. Tidak ada kehidupan siapapun yg semourna tanpa cela. Klo selama ini kurang maka berusaha lah lbh dari yg lain. Tdk perlu gengsi atas kebaikan. Sy blm aja ceritakan bahwa sy pernah jualan koran, jadi kernet, supir dll. Sukses itu sama sekali tdk mudah, bukan juga berarti sy sdh sukses krn banyak sekali org2 hebat diatas saya. Tapi bagi saya kesuksesan adalah matematika yg bisa dihitung, Sebagai mana juga kegagalan adalah matematika. Wlwpun pada akhirnya semua hrs diserahkan kepada yg serba Maha tapi tugas kita adalah berusaha memaksimalkan ikhtiar. #SalamSefur
